Jumat, 16 November 2012

Jokowi akan Meriahkan Kirab Budaya Nasional


Jokowi akan Meriahkan Kirab Budaya Nasional

Tribunnews.com - Selasa, 23 Oktober 2012 15:43 WIB
Share this
Share
Email
Print
  + Text –
Jokowi akan Meriahkan Kirab Budaya Nasional
Istimewa
Ondel-ondel 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menyambut peringatan Sumpah Pemuda, Minggu 28 Oktober 2012, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menyelenggarakan kirab budaya nasional.
Joko Widodo, gubernur DKI Jakarta, rencananya juga akan turut serta memeriahkan acara yang akan diikuti 20.000 peserta tersebut.
"Nanti saya mau ikut andil. Tapi menggunakan pakaian apa, saya belum tahu, yang pasti busana nasional," ujar Jokowi, panggilan bekennya, di Balai Kota, Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Adapun rute yang akan ditempuh peserta kirab budaya adalah dari Balaikota menuju MH. Thamrin dan ke Monas.
Jokowi mengaku akan menyelenggarakan event yang sama setiap tahunnya. Namun lokasi akan dipilih berbeda-beda.
"Tahun 2013 sudah kita rancang untuk semua wilayah. Semuanya nanti, di bulan-bulan tertentu terutama liburan juga banyak," ujarnya.
Adapun tema kirab kali ini adalah Kesetaraan dan Jakarta sebagai Pusat Budaya Nusantara.
"Acara ini sebagai awal menjadikan Jakarta sebagai kota budaya, atau pusat budaya nusantara," tambah Kris Budiharjo, Ketua panitia Kirab Budaya.

Wayang Golek Sedot Ribuan Warga


10 November 2012
Wayang Golek Sedot Ribuan Warga
  • Perayaan Harkitnas
 0
 
  0
BREBES - Pentas wayang golek kebangsaan dengan dalang Ki Enthus Susmono, di lapangan Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Brebes, mampu menyedot ribuan warga, Kamis (8/11) malam. Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) itu digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pokja Brebes bersama Majelis Dzikir Serodja Merah Putih Desa Slatri. 
Ribuan warga berduyun-duyun datang memadati lapangan Desa Slatri sejak satu jam sebelum pentas wayang semalam suntuk itu digelar. Mereka yang datang tidak hanya dari desa setempat, tetapi dari beberapa desa tetangga hing- ga kecamatan tetangga.
Bahkan, warga rela berjalan beberapa kilometer untuk dapat menyaksikan acara tersebut. Dalam pertunjukan itu, Ki Enthus yang dikenal dengan julukan ’’Dalang Edan’’’ itu mengangkat kisah Sunan Kalijaga. Dalang asal Kabupaten Tegal itu juga mampu membuat penonton ger-geran.
Penonton dibuat tertawa ketika Ki Enthus memainkan wayang andalannya Lupit dan Slenteng. Melalui dua tokoh wayang itu ia membuat kelucuan hingga suasana menjadi hangat.
Nilai Kebangsaan
Ketua PWI Pokja Brebes, Fatah El Zaman SE mengatakan, selain dalam rangka memperingati Hardiknas, pentas wayang golek dilaksanakan untuk memberikan hiburan segar bagi masyarakat. Tema cerita wayang golek yang diambil pun menyangkut kebangsaan. “Melalui pentas wayang ini, kami juga ingin memberikan dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Koordinator Majelis Dzikir Serodja Merah Putih Desa Slatri, Nuridin Alim. Menurutnya, kegiatan itu sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa kebangsaan bagi masyarakat Slatri pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. 
Organisasi yang dipimpinnya bekerja sama dengan PWI Pokja Brebes karena ada agenda yang sama dalam memperingati Harkit- nas. ’’Kegiatan ini murni untuk memberi hiburan yang sifatnya dapat menumbuhkan rasa kebangsaan pada masyarakat,” katanya. (H38-74,88)

Kebudayaan Daerah Unsur Budaya Nasional


Kebudayaan Daerah Unsur Budaya Nasional

DEFINISI BUDAYA

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk dan , adat istiadat, , perkakas, , , dan karya . , sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha ber dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di , "keselarasan individu dengan " d dan "kepatuhan kolektif" di . Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dan nilai yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

KEBUDAYAAN NASIONAL

adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:
“
Kebudayaan nasional yang berlandaskan adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199 

”
Kebudayaan nasional dalam pandangan adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta . Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”

Pernyataan yang tertera pada tersebut merupakan penjabaran dari Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.

Sebelum di amandemen, menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan . Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan,

Kebudayaan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang khas yang terdapat pada wilayah tersebut. Kebudayaan daerah di Indonesia di Indonesia sangatlah beragam. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan daerah sama dengan konsep suku bangsa. Suatu kebudayaan tidak terlepas dari pola kegiatan masyarakat. Keragaman budaya daerah bergantung pada faktor geografis. Semakin besar wilayahnya, maka makin komplek perbedaan kebudayaan satu dengan yang lain. Jika kita melihat dari ujung pulau Sumatera sampai ke pulau Irian tercatat sekitar 300 suku bangsa dengan bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda.

Konsep Suku Bangsa / Kebudayaan Daerah. Tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat yang dapat berwujud sebagai komunitas desa, sebagai kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Sebaliknya, terhadap kebudayaan tetangganya, ia dapat melihat corak khasnya, terutama unsur-unsur yang berbeda menyolok dengan kebudayaannya sendiri. Pola khas tersebut berupa wujud sistem sosial dan sistem kebendaan. Pola khas dari suatu kebudayaan bisa tampil karena kebudayaan itu menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus yang tidak terdapat pada kebudayaan lain.

Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan, yang tercermin pada pola dan gaya hidup masing-masing. Menurut Clifford Geertz, di Indonesia terdapat 300 suku bangsa dan menggunakan kurang lebih 250 bahasa daerah. Akan tetapi apabila ditelusuri, maka sesungguhnya berasal dari rumpun bahasa Melayu Austronesia. Kriteria yang menentukan batas-batas dari masyarakat suku bangsa yang menjadi pokok dan lokasi nyata suatu uraian tentang kebudayaan daerah atau suku bangsa (etnografi) adalah sebagai berikut:

  • · Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih.
  • · Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh identitas penduduk sendiri.
  • · Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh wilayah geografis (wilayah secara fisik)
  • · Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologis.
  • · Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mempunyai pengalaman sejarah yang sama.
  • · Kesatuan penduduk yang interaksi di antara mereka sangat dalam.
  • · Kesatuan masyarakat dengan sistem sosial yang seragam.
Perbedaan-perbedaan ini menimbulkan berbagai kebudayaan daerah yang berlainan, terutama yang berkaitan dengan pola kegiatan ekonomi mereka dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan untuk mendukung kegiatan ekonomi tersebut (cultural activities), misalnya nelayan, pertanian, perdagangan, dan lain-lain. Pulau yang terdiri dari daerah pegunungan dan daerah dataran rendah yang dipisahkan oleh laut dan selat, akan menyebabkan terisolasinya masyarakat yang ada pada wilayah tersebut. Akhirnya mereka akan mengembangkan corak kebudayaan yang khas dan cocok dengan lingkungan geografis setempat.

Dengan beribu-ribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup diberbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing-masing. Hal tersebut membawa akibat pada adanya perbedaan latar belakang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakatnya. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam latar belakang budaya, etnik, agama yang merupakan kekayaan budaya nasional dengan kata lain bisa dikatakan sebagai masyarakat multikultural.

Secara fisik penduduk Indonesia dibagi menjadi beberapa golongan :

  • · Golongan orang Papua Melanosoid. Golongan penduduk ini bermukim di pulau Papua, Kei, dan Aru. Mereka mempunyai ciri fisik seperti rambut keriting, bibir tebal, dan berkulit hitam.
  • · Golongan orang Mongoloid. Berdiam di sebagian besar kepulauan Indonesia, khususnya di kepulauan Sunda Besar (kawasan Indonesia barat), dengan ciri-ciri rambut ikal dan lurus, muka agak bulat, kulit putih hingga sawo matang.
  • · Golongan Vedoid, antara lain orang-orang Kubu, Sakai, Mentawai, Enggano, dan Tomura, dengan ciri-ciri fisik bertubuh relatif kecil, kulit sawo matang, dan rambut berombak.
  •  
Dari perbedaan golongan tersebut, ada pola sistem yang khas dari bangsa Indonesia. Untuk kebudayaan nasional bisa dihubungkan dengan kebudayaan timur yang menjadi dasar landasan kebudayaan daerah. Kebudayaan nasional dapat dilihat dari pola sistem hidup masyarakatnya, seperti sifat keramah-tamahan, kekeluargaan, kerakyatan , kemanusiaan dan gotong royong. Sifat-sifat inilah yang dapat dilihat dari kebudayaan nasional yang dilihat oleh bangsa lain sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Meskipun gotong royong setiap daerah istilahnya berbeda, tetapi secara pengertian sama artinya. Bangsa Indonesia mempunyai peribahasa berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama rata sama rasa. Ungkapan ini mencerminkan bangsa Indonesia sejak dulu menjunjung tinggi kebersamaan dalam melaksanakan pekerjaan, dan menikmati hasilnya

Sumber: http://redu4nebarkaoi.wordpress.com/2008/05/07/kebudayaan-daerah-dan-kebudayaan-nasional/

Kamis, 15 November 2012

Islam Mengakomodir Budaya


Islam Mengakomodir Budaya
Jumat, 27/04/2012 15:49

Tags:

Space Iklan
300 x 80 Pixel
Brebes, NU Online
Agama Islam mampu berkembang ke seantero negeri akibat mengakomodir budaya setempat. Tidak sedikitpun mengusik tradisi yang menjadi kebiasaan sehari-hari, apalagi memaki-maki. Anehnya, saat ini ada sekelompok orang yang berdakwah dengan menebarkan kebencian dan mengungkit tradisi. Cara-cara berdakwah seperti itu, justru tidak akan pernah berhasil.

Demikian dikatakan pengasuh pondok pesantren Buntet Cirebon Prof DR KH Muhammad Abbas Fuad Hasyim saat menyampaikan mauidlotul khasanah pada tabligh akbar peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Brebes di alun-alun Brebes, Kamis (26/4) malam.

Lebih lanjut Babas (demikian panggilan akrabnya) berdakwah dengan menuding-nuding ajaran itu sesat, bidah, tidak Islami dan membangga-banggakan kelompoknya sebagai yang terbaik, hanya membuat runyam dan merusak ukhuwah. Akibatnya, merugikan diri sendiri dan umat Islam pada umumnya.

Peristiwa Isra Miraj telah membukakan mata dan telinga kita, kalau Islam tidak picik dan sangat modern. Ketika memadukan kebaikan yang satu dengan kebaikan yang lain, akan tercipta budaya yang indah, cantik, dan menggemparkan.

Janganlah kita terkungkung dengan nostalgia sejarah, sebagai acuan beribadah. Nabi pada Zamannya memakai Jubah, tapi tidak harus kita sholat dengan jubah. Karena yang diutamakan dalam sholat adalah menutup aurat.

Islam diterima di Indonesia, karena menghargai tradisi umat Hindu yang terlebih dahulu hidup di Indonesia. Penghargaanya kepada umat Hindu, kita memakai sarung.  “Sarung kotak-kotak dan peci hitam adalah pakaian umat Hindu,” kata Babas yang menempa Ilmu hingga mencapai gelar doktornya di India selama 6 tahun.

Demikian juga dengan celana dan dasi, adalah pakaian orang eropa yang mayoritas beragama nasrani. “Lalu kita mau pakai apa, kalau hal-hal sepele di perdebatkan terus?” ujar Babas yang disambut aplaus sekitar 10 ribu pengunjung.

Islam ditebarkan untuk rahmat bagi seluruh alam. Peristiwa Isra Miraj, menandakan Islam menembus batas langit dan bumi serta akhirat. “Daya nalar tidak bisa berarti kalau tidak sinergi dengan hati,” tandas Babas.

Wakil Ketua PC NU Brebes Drs H Sodikin Rachman mengaku bangga dengan kegiatan yang digelar IPNU. Gerak langkah IPNU perlu mendapat apresiasi sebab telah membuat kegiatan positif. PC NU pun menaruh kepercayaan, IPNU bakal menjadi pelanjut estafet kepemimpinan masa depan. Pelanjut generasi yang Islami dan rahmatan lil alamin.

Ketua PC IPNU Brebes Husni Mubarak al Hafidz menjelaskan, peringatan Isra Miraj digelar sebagai upaya membangkitkan Pelajar untuk berfikir kritis dan menatap masa depan dengan optimis. Perubahan zaman harus disikapi dengan semangat beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya, keluarga, orang lain, bangsa dan Negara.

Bupati Brebes dalam sambutannya yang disampaikan Kabag Kesra Setda Brebes H Mabruri SH mengingatkan kepada umat Islam untuk selalu menjaga kondusifitas. Apalagi menjelang Pemilukada, ada berbagai gesekan yang muncul sehingga memicu ketidakharmonisan. Landasan agama, akan mengeliminir terjadinya suasana panas menjadi damai, dan tetap kondusif dalam bingkai NKRI.


Redaktur      : Syaifullah Amin
Kontributor : Wasdiun 

Kamis, 04 Oktober 2012

4 Oktober Diusulkan Jadi Hari Bebas Gepeng


Updated: Fri, 05 Oct 2012 02:58:34 GMT

4 Oktober Diusulkan Jadi Hari Bebas Gepeng

4 Oktober Diusulkan Jadi Hari Bebas Gepeng
4 Oktober Diusulkan Jadi Hari Bebas Gepeng
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Sosial mendorong adanya gerakan nasional untuk membebaskan kota-kota di Indonesia dari keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng).
"Kami berkeinginan 4 Oktober disosialisasikan menjadi hari bebas gelandangan dan nantinya akan menjadi gerakan nasional," kata Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kementerian Sosial, Sonny W Manalu, di Jakarta, Jumat.
Alasan 4 Oktober sebagai hari bebas gelandangan karena tanggal tersebut mulai berdiri Panti Sosial Bina Karya (PSBK) Pangudi Luhur Bekasi pada 51 tahun lalu. PSBK Pangudi Luhur merupakan satu-satunya panti yang menangani gelandangan dan pengemis yang dikelola Kementerian Sosial.
"Di usia yang sudah 51 tahun menunjukkan bahwa pemerintah sudah sejak lama memberikan perhatian bagi penanganan gepeng," kata Sonny.
PSBK Pangudi Luhur juga diharapkan menjadi percontohan nasional serta pusat rujukan penanganan gepeng. "Kami mempunyai keinginan PSBK Pangudi Luhur menjadi panti percontohan sekaligus pusat rujukan nasional untuk penanganan gepeng," katanya.

Tanah Bergeser, Delapan Rumah di Brebes Ambruk


Updated: Mon, 05 Mar 2012 19:46:41 GMT

Tanah Bergeser, Delapan Rumah di Brebes Ambruk

Tiga rumah ambruk dan 16 lainnya retak-retak akibat pergerakan tanah di Desa Mlayang, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Tanah Bergeser, Delapan Rumah di Brebes Ambruk
Liputan6.com, Brebes: Tiga rumah ambruk dan 16 lainnya retak-retak akibat pergerakan tanah di Desa Mlayang, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin (5/3). Pergerakan tanah dipicu hujan deras yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.Salah satunya menimpa rumah milik Karina. Hampir seluruh bagian tembok dan dinding rumah retak-retak. Menurut Karina, pergerakan tanah yang terjadi sekitar pukul 05.00 WIB itu merupakan kali kedua dalam sepekan terakhir. Ia bersama korban lain pun memutuskan akan mengungsi ke tempat yang lebih aman.Mereka berharap pemerintah menyediakan tempat yang lebih aman. Warga pun bersedia untuk direlokasi. Bencana pergeseran tanah ini juga terjadi pada Kamis malam lalu. Sedikitnya, lima rumah ambruk dan 14 lainnya retak-retak pada bagian tembok dan lantai.(APY/ULF)

KPUD Brebes Ajak Publik Awasi Kampanye Pilkada Brebes


Pencoblosan Berlangsung 7 Oktober Mendatang

KPUD Brebes Ajak Publik Awasi Kampanye Pilkada Brebes

MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012 17:26 WIB
LENSAINDONESIA.COM: ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menghimbau agar masyarakat ikut peran aktif untuk mengawasi jalannya masa kampanye Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Brebes.
Himbauan itu disampaikan ketua KPU Brebes, H. Masykur, saat acara Sosialisasi Pemilihan Umum Bupati dan Wakli Bupati Brebes periode 2012-2017 di aula Kantor Kecamatan Bumiayu.
“Semua anggota masyarakat, LSM, Mahasiswa dan wartawan kami harap bisa ikut berpartisipasi dalam mengawasi jalannya masa kampanye ini,” pintanya, Minggu (23/09).
Masykuri mengatakan, pelanggaran bisa saja terjadi dan para calon yang saat ini maju dalam pemilukada Brebes merupakan para pejabat.
Pelanggaran yang mesti diawasi diantaranya penggunaan fasilitas negara yang terkait dengan jabatannya.
“Dua calon bupati ini masing-masing menjabat bupati dan wakil bupati tetapi sesuai aturan tidak boleh menggunakan fasilitas negara yang terkait dengan jabatannya,” ujarnya.
Dikatakannya, pengawasan juga perlu dilakukan pada pejabat negara, pejabat strukturan dan fungsional dalam jabatan negeri seperti kepala desa.
Pejabat-pejabat ini tidak dibenarkan membuat keputusan atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye.
“Jika ada pejabat yang melanggar segera laporkan ke pihak berwenang atau panwas dengan disertai barang bukti,” tegas Masykuri.
Pengawasan oleh masyarakat terhadap pelanggaran kampanye sangat perlu. Diharapkan dengan pengawasan itu nantinya tidak terjadi pelanggaran dan hasil pelaksanaan Pemilukada Brebes 07 Oktober 2012 nanti benar-benar bersih.
“Pengawasan ini penting sehingga nantinya siapapun bupati yang terpilih adalah terpilih dengan cara yang terhormat,” ucap Masykuri.
Sementara itu pantauan LICOM dilapangan, pada Minggu (23/9), pasangan bupati / wakil bernomor urut 1 H.Agung Widyantoro-Atholillah berkampanye di wilayah pantura yakni Kecamatan Losari.
Sedangkan pasangan nomer 2, Idza Priyanti-Narjo (IJO) di wilayah Brebes selatan, yakni di Lapangan ASRI, Kecamatan Bumiayu.@boy
    
 


Editor: Rizal Hasan