Kamis, 03 Januari 2013

Tak Mampu Kuliah Bukan Akhir Segalanya


Wanita sederhana yang suka pada kesederhanaan Takut sekali menjadi orang yang sombong. "Life is a journey that no one makes alone , the more people you touch along the way, the more meaningful and rewarding your time will be"

Tak Mampu Kuliah Bukan Akhir Segalanya

HL | 03 January 2013 | 00:49Dibaca: 971   Komentar: 15   19 inspiratif

1357159721180670148
Ilustrasi / Admin (Shutterstock)
Pendidikan formal dalam kehidupan kita memang sangat penting. Tentu kita akan bangga bila mampu  mencapai gelar impian. Namun  tak semua  keluarga di Indonesia mampu membiayai anak anaknya sekolah apalagi  kuliah, kecuali si anak mendapat beasiswa.   Di  Indonesia biaya pendidikan sangat mahal, walau katanya SD, SMP gratis tetap saja banyak uang sampingan yang harus dibayar oleh murid. Apalagi biaya kuliah mahalnya bukan main. Jika kita tak mampu kuliah bukan berarti akhir segalanya. Banyak jalan menuju Roma asal kita mau berusaha.
Saya tak ingin membandingkan orang orang luar negeri yang sukses walau tak lulus kuliah  seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg karena di Amerika dan Australia (entah di negara lain) kesempatan kuliah itu terbuka untuk mereka yang tak punya dana. Pemerintah setempat memberikan  student loan selama kuliah dan siswa harus mengembalikan dengan cara mencicil jika sudah mencapai gaji tertentu.
Di Indonesia banyak orang orang sukses dan terkenal padahal mereka tidak sekolah tinggi dan tak lulus kuliah.  Seperti Buya Hamka ,  Andy F Noya,  Andrie Wongso dll.  Tentu tak mudah mencapai kesuksesan lalu menjadi orang terkenal.  Mereka yang saya sebutkan hanya sekedar contoh saja.
Menurut pemikiran saya yang sederhana ,  jika kehidupan dan tingkah laku seseorang hari ini lebih baik dari kemarin maka saya menganggap itu sebuah kesuksesan.
Dulu anak saya yang kedua pernah menyesali mengapa kami ortunya  ngga bisa biayai kuliah. Kami besarkan hatinya bahwa selama kita mau belajar dan kerja keras,  tanpa kuliahpun bisa cari uang. Lulus Sekolah Tehnik Menengah, lalu bekerja di salah satu bank swasta mengurus mesin diesel.  Terjadi PHK, ia jadi pedagang kaki lima, berjualan kartu ucapan dan album photo buatan sendiri.  Bekerja di Amerika selama 4 tahun, dari tukang bersiin meja, waiter,  kitchen helper disebuah resto Jepang sambil   belajar membuat Sushi.  Kini ia  menjadi Sushi Chef di Jakarta dan sangat menikmati pekerjaannya dan  tak lagi menyesal karena tak kuliah.
Saya sendiri  hingga kini masih terus belajar karena dulu tak pernah sekolah tinggi. Beruntung sejak SD saya suka bahasa Inggris walau saat itu tak mampu kursus bahasa Inggris. Saya belajar gratis dari buku dan koran dengan modal kamus ditangan. Jika ketemu orang bule saya ajak ngomong, mau bener atau ngga yang penting cas cis cus.  Berbeda dengan jaman sekarang, belajar apa saja bisa lewat internet, tinggal kita sendiri ada kemauan atau ngga.
Inilah pekerjaan pekerjaan yang sudah saya jalani :
TUKANG JAHIT :
Menjadi ibu rumah tangga tak menghalangi saya untuk belajar mencari ilmu dan uang demi membantu suami. Kebetulan tetangga dekat rumah seorang penjahit pakaian. Saya tawarkan tenaga untuk membersihkan rumahnya asal saya diajari membuat pakaian.  Dalam 3 bulan saya pandai menjahit baju. Saya tawarkan gratis pada tetangga yang ingin bikin baju asal mengganti uang benang. Alhamdulilah langganan makin banyak, kebanyakan ibu ibu sekitar rumah. Saat hamil 9 bulan dibulan ramadan saya masih menjahit hingga  melahirkan. Cita cita bekerja dikantor masih terpendam tapi tak pernah pudar.
MENGURUS ADMINISTRASI RINGAN DISEBUAH KLUB ORANG ASING
Saya bekerja pada Gary orang Inggris yang   bekerja di perusahaan minyak asing. Ia juga  membuka usaha kecil seperti coffee shop di Jakarta Pusat. Di situ ada perpustakaan juga TV besar untuk memutar video.  Buka sore hari dari jam 4 hingga jam 10 malam. Pelanggan kebanyakan guru guru bahasa Inggris yang relax sejenak sambil baca buku, nonton video dan  minum kopi.  Tugas saya menyusun buku buku, jadi kasir dan mencatat buku apa saja yang dipinjam pelanggan.
Setiap sore sebelum coffee shop buka saya sering melihat Gary  mengetik di komputer. Saya berdiri dibelakangnya sambil dalam hati berkata ” Enak kali ya kalau saya bisa menggunakan komputer.” Ternyata Gary memperhatikan tingkah laku saya hingga suatu hari ia bertanya ” Kamu mau belajar komputer?” Wah kebetulan sekali, pucuk dicinta ulam tiba. Sejak itu setiap sore dari jam 3 hingga jam 4 saya diajari cara menggunakan komputer ( Apple).  Setelah 1 bulan Gary memutuskan untuk membiayai  saya  kursus komputer khusus untuk sekretaris. Selesai dalam waktu 6 bulan , sayapun mendapat tugas baru. Setiap hari Minggu, saya bekerja selama 2 jam di rumah Gary di Kemang. Pekerjaan saya mengetik laporan yang ditulis tangan dan  dibekali kamus bahasa Inggris khusus perminyakan.  Setelah makan siang sayapun pulang. Gaji waktu itu 100.000 rupiah ( kerja hanya hari Minggu saja) plus makan siang dan ongkos taxi pulang pergi. Gary bukan hanya seorang atasan tapi juga sahabat. Sayang Gary harus kembali ke Inggris  karena kontrak kerja   selesai.
JADI PENGAWAS SAMPAH SWASTA DI DKI :
Lalu saya bekerja lagi pada John ( samaran) , orang Inggris juga  yang mengurus sampah swasta di DKI.   Tugas saya mengawasi pengangkutan sampah di DKI  khusus Jakarta Pusat.  Jam 6 pagi saya sudah berada di posko Monas, lalu ikut truk sampah berkeliling mengangkut sampah. Bau dan kotornya tak terkira. Teringat ketika  Ibu Tien   melambaikan tangan sambil tersenyum melihat saya naik turun truk sampah. Jika sampah  sudah penuh, langsung kami berangkat ke  ketempat pembuangan akhir  di Bantar Gebang, kadang makan siang di sana dengan semangkok bakmi ditemani lalat lalat yang berterbangan. Untung ngga pernah sakit.   Kami bekerja hingga jam 3 sore lalu kembali ke posko di Monas.
Suatu hari saya diajak makan malam oleh John disebuah hotel mewah. Lalu saya diminta menghadap istrinya yang punya sekolah bahasa Inggris.   Sayapun diterima bekerja di sana sebagai staff administrasi.  Guru guru yang mengajar semuanya orang asing.  Maka bertambah lagi kemampuan bahasa Inggris saya. Walau gaji kecil yang penting dapat ilmu. Cita cita saya bekerja di kantor tercapai sudah walau saya tak pernah kuliah.
Ketika ada dana sedikit, saya  ambil kursus accounting di LPK Trisakti  (6 bln) dan dapat sertificat. Lalu kursus Bahasa Inggris Business ,  Manchester . UK  (kursus jarak jauh),   selesai dalam 2 tahun dan  dapat diploma.
Sempat jadi pengusaha kecil, usaha kost kost an didekat kampus Bina Nusantara, internet cafe,  dealer motor,  jual beli mobil bekas, travel agent.  Krisis ekonomi perlahan tutup satu satu.   Mulai sering ke Amerika menengok anak anak, sambil jadi kuli, di resto, panti jompo, percetakan koran, garment dan terakhir di pharmacy jalankan mesin pembuat kapsul.
Alhamdulilah , pekerjaan terbaik dalam hidup saya adalah bekerja sebagai Admin Officer di sebuah kantor penerbangan UAE.   Gaji sangat lumayan, budget kaca mata AED 1500/th, free apartement, free medical, free return ticket setahun sekali plus cuti 25 hari dengan gaji penuh.  Saya terus belajar sambil bekerja. Tugas saya mengurus administrasi, dan  melakukan transaksi pemesanan/ pembelian spare parts pesawat,  dari mengirim RFQ ( Request For Quotation )  ke beberapa suppliers di USA dan Eropa, transfer dana, hingga spare parts diterima. Sungguh pekerjaan yang penuh tantangan dan membutuhkan ketelitian serta  kesabaran, tapi saya sangat menikmatinya. Kontrak kerja  pertama dua tahun lalu unlimited,  berhubung  saya menikah dan suami tak mau pindah ke UAE, maka saya mengundurkan diri.
Jika saya menengok ke belakang, koq aneh ya saya tak pernah bekerja di perusahaan Indonesia.  Mungkin karena saya ngga punya titel sarjana.   di Indonesia ngga penting pengalaman, yang penting muda dan sarjana.
Kini saya tinggal di Australia dan sedang menuntut ilmu.  No one is too old to learn isn’t?  Teringat kata kata bijak tentang belajar .
” Orang orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu, orang orang yang masih terus belajar akan menjadi milik masa depan” (Mario Teguh)
” Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”
” Belajarlah dari buaian hingga keliang kubur”
Insya Allah jika selesai sekolah dan suami mengizinkan  saya akan bekerja lagi. Di Australia  tak mengenal batas usia kerja , tak boleh ada diskriminasi  fisik  atau warna kulit,  selama kita mampu, rajin  dan  mau belajar insya Allah akan dapat pekerjaan.
Menurut pendapat saya, jangan pernah menyesali diri ketika kita tak mampu sekolah tinggi. Berdoa, belajar,  berusaha keras dan jangan malas. Insya Allah dimana ada kemauan pasti ada jalan.

Akibat Jalan Butut Payudaraku Jadi Kendor



Teacher, Motivator, Trainer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Dosen STMIK Muhammdiyah Jakarta, dan Guru TIK SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan ...

Akibat Jalan Butut Payudaraku Jadi Kendor

REP | 03 January 2013 | 06:45Dibaca: 1550   Komentar: 0   1 inspiratif

13571702771944010085
Spanduk di Jalan Cijulang
Kecewa banget setelah berkunjung ke obyek wisata cukang taneuh/green canyon. Sebab jalan menuju obyek wisata ini sangat jelek dan berlubang. Pemerintah daerahnya kurang tanggap, sehingga akses jalan menuju tempat ini tidak segera diperbaiki. Sepanjang jalan menuju ke obyek wisata ini, saya menemukan banyak spanduk dan poster yang kecewa dengan pemimpinnya. Bahkan ada sebuah spanduk yang isinya begini: “akibat jalan butut, payudaraku jadi kendor…Sasalak Jadi Laer…”.
Seharusnya Jalan Raya Cijulang Green Canyon, desa Kertayasa ini berada dalam kondisi mulus. Tentu akan semakin banyak lagi wisatawan yang akan datang berkunjung ke obyek wisata Green Canyon. Saya dan keluarga yang melewati jalan ini merasa tidak nyaman. Banyak kubangan babi, atau kerbau sepanjang jalan. Kami menjadi tak puas karena melihat pemandangan yang kurang berkesan karena akses jalan yang berlubang dan mengecewakan para wisatawan yang akan berkunjung ke Green Canyon. Sementara itu, pelayanan petugas di obyek wisata ini juga kurang ramah dan profesional.
Akibat akses jalan yang rusak, perjalanan menuju obyek wisata ini menjadi lama. Kami menjadi bertanya-tanya, kemana saja uang pendapatan daerah yang didapatkan dari obyek wisata? Jangan-jangan uangnya ditilep pejabat yang tak amanah. Rakyatpun menjadi susah karenanya. Pejabat korup harus ditangkap KPK dan mereka harus mengembalikan uang rakyat yang diambilnya.
Bila akses jalan berjalan baik, tentu jarak obyek wisata pangandaran menuju Green Canyon menjadi tidak terlalu lama. Para pemakai jalan dan wisatawan yang akan berkunjung ke obyek wisata ini akan dengan senang hati berkunjung ke tempat yang memesona pemandangan alamnya ini.
Semoga pemerintah daerah yang berwenang dalam perbaikan jalan, segera memperbaiki kondisi jalan ini yang sudah sangat parah.  Suara rakyat banyak yang mengeluhkan kondisi jalan harus didengar. Pejabat pemerintah daerah haruslah bertanggungjawab mengemban amanah rakyat. Segera perbaiki jalan dari pemasukan daerah, dan segera keluarkan untuk kesejahteraan masyarakat banyak. Akses jalan adalah fasilitas penting yang harus didahulukan seperti iklan yang saya baca dari poster bergambar gubernur Jawa barat, Ahmad Heryawan. Semoga bukan slogan belaka.
1357170560770131843
Obyek Wisata Green Canyon
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

Keadilan Aceng Fikri, Siapa Peduli?


Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis seseorang, kenalilah bacaannya dan bacalah kenalannya. (http://nafaspembaharuan.blogspot.com/)

Keadilan Aceng Fikri, Siapa Peduli?

OPINI | 03 January 2013 | 11:54Dibaca: 497   Komentar: 10   Nihil

1357188775447380933
sumber image: www.nafaspembaharuan.blogspot.com

Keadilan bukanlah upaya balas dendam. Mungkin selama ini kita geram dengan pisau hukum yang hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Rakyat kecil selalu menjadi korban empuk atas nama penegakan hukum demi keadilan. Sementara penguasa beserta kroni-kroninya, pejabat, birokrat plus konglomerat melenggang sakenake udele dhewe memainkan pasal-pasal peraturan tanpa tersentuh hukum.
Maka ketika kasus nikah (kilat) siri menjerat Bupati Garut Aceng Fikri, DPRD kompak dengan rakyat untuk menempatkan Aceng Fikri sebagai satu-satunya public enemy. DPRD memakzulkan, rakyat demo dan menghujat untuk memundurkan. DPRD bersenjata pelanggaran Undang-undang, rakyat bersenjata pelanggaran etika kepemimpinan dan pelecehan kaum perempuan. Keduanya baik dan keduanya benar. Sebagai “musuh publik” terkini, Aceng Fikri memang layak untuk “dihancurkan.” Itulah keadilan.
Namun keadilan akan menjadi ketidakadilan manakala dalam kasus yang satu ini pisau hukum terjebak pada satu sasaran semata. Jika selama ini kita menuding tebang pilih, mungkin kali ini kita yang pilih-pilih menebang pelanggar hukum. Tak perlu munafik, masih banyak Aceng Fikri-Aceng Fikri lain yang terlibat kasus nikah siri. Mungkin bukan hanya di Garut, tapi Jawa Barat, bahkan Indonesia. Meminjam plesetan slogan Tempo doeloe, “enak dibaca dan perlu,” nikah siri bagi pejabat publik adalah tradisi unik dan komoditi “Tempe: Enak dibacem dan perlu.”
Bahkan, di kalangan eksekutif dan legislatif juga tak jarang, di daerah dan di pusat. Hanya saja mereka (para pelaku nikah siri) masih beruntung kasusnya tidak diekspos oleh wartawan ke media sehingga asyik-asyik saja menikmati “tempe bacem”nya tanpa gangguan demo, hujatan dan upaya pemakzulan. Wong namanya juga nikah siri, mekanisme kerjanya tentu tak beda jauh dengan korupsi dan kolusi. Layaknya siluman, bergerak di kala sepi, sembunyi-sembunyi, bila mulai terdeteksi, langsung cuci tangan dan lari. Bagaiamana ada saksi dan bukti? Blaiii
Bila kita mau sedikit proporsional dalam melihat kasus Aceng Fikri, sempatkanlah untuk memberi kesempatan sang bupati untuk membela diri. Wajar towong koruptor yang nyata-nyata telah divonis pengadilan merugikan miliaran hingga triliunan uang negara (baca: uang rakyat) saja masih diberi kesempatan membela diri.
Termasuk Aceng Fikri, tak lebih dari politisasi, pergeseran urusan privacy ke ranah hukum-politik karena kapasitasnya sebagai pejabat publik, belum sampai kepada pencurian, penggelapan atau penggarongan uang rakyat. Sekadar pertanyaan, manakah yang lebih tinggi daya rusaknya bagi kesejahteraan dan keadilan publik antara nikah siri dengan korupsi? (Aceng Fikri: Dilema Privacy dan Obsesi Pemimpin Suci)
Aceng Fikri sendiri sendiri lewat kuasa hukumnya Ujang Sujai menilai bahwa keputusan DPRD Garut memakzulkan Aceng cacat hukum. Alasannya, 35% dari 50 anggota Dewan melakukan nikah siri, bahkan ada di antaranya yang hingga kini telah memiliki anak namun tidak memiliki akta lahir. Karena itu pihaknya mengajukan gugatan ke PTUN Bandung. Di antara materinya, keputusan dewan tidak profesional karena sama melakukan nikah siri.. Yang memakzulkan dan yang dimakzulkan sama-sama melakukan nikah siri. Jeruk makan jeruk. Cicak makan cicak. Buaya makan buaya. Apa kata dunia?
Akhirnya, benar atau tidaknya fakta ini, lengser atau tidaknya sang bupati dari jabatannya, biarlah hukum yang bicara lewat keputusan MA. Meski pada praktiknya, penegakan hukum di negeri ini masih terlalu kental dengan bumbu politik sebagai “penyedap rasa.” Tapi siapa peduli? Termasuk keadilan bagi Aceng Fikri, siapa peduli? Kepedulian terpenting bagi kita, adalah nada hukum dan irama politik yang semestinya dimainkan dengan santun, elegan dan cantik. Hukum tak semestinya tebang pilih. Pejabat atau rakyat tak boleh berbeda. Konglomelarat atau engkongmelarat, bila melanggar hukum dan kode etik politik mesti dibabat.
Dan yang utama, salus populi suprema lex. Kemaslahatan publik adalah hukum tertinggi. Terakhir, tradisi nikah siri juga layak dikaji lagi keabsahannya di negeri ini, dengan mempertimbangkan manfaat-maslahat dan mudlorot-maksiatnya bagi tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan bagi komunitas nikah siri, mungkin sudah waktunya tak hanya berlindung di balik tameng slogan “Tempe: Enak Dibacem dan Perlu.”
Salam…
El Jeffry
Sumber: www.tempo.co

Kepala Dinas di DIY Bakal Dapat Honda CRV (Wow!)


Kepala Dinas di DIY Bakal Dapat Honda CRV (Wow!)

OPINI | 03 January 2013 | 11:57Dibaca: 92   Komentar: 0   Nihil
Kabar gembira bagi para kepala dinas di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (kabar duka bagi rakyat) bahwa per 2013 ini, kendaraan dinas (kendaraan pribadi dibayari dinas) para kepala dinas/SKPD di DIY akan berganti mobil yang jauh lebih keren, lebih mahal dan so pasti lebih “berwibawa”.
Bila tak ada aral melintang (demo rakyat) maka per 2013 ini para kepala dinas di DIY akan mendapatkan sebuah mobil dinas berupa Honda CRV. Dari berita di koran bahwa kendaraan para kepala dinas yang berujud Nissan Terano dan Nissan X-Trail dipandang sudah tak keren lagi alias tak bonafid lagi untuk ukuran kepala dinas.
Para kepala dinas mesti tampil berwibawa alias “mriyayeni” dihadapan kawula, untuk itu diperlukan kendaraan yang bergengsi tinggi.
Berita ini termuat diberbagai koran terbitan Yogyakarta dan Jateng

Pengaruh Perkembangan Teknologi terhadap Pergeseran Nilai–nilai Budaya


Pengaruh Perkembangan Teknologi terhadap Pergeseran Nilai–nilai Budaya

OPINI | 12 February 2010 | 11:52Dibaca: 16159   Komentar: 2   Nihil
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai budayanya, mungkin itu adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan begitu beragamnya budaya orang Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Beribu – ribu pulau, suku, bahasa, adat, membuat Indonesia menjadi salah satu daya tarik dan Negara yang paling kaya dipandang dari budayanya. Secara matematis kita tidak dapat menghitung betapa melimpahnya kekayaan budaya kita
Dipandang dari adatnya ke-Timuran-nya maka Indonesia sangat berbeda dengan daerah yang ada di Barat, rata – rata orang Timur sangat menjunjung tinggi nilai – nilai budayanya sendiri sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turun – temurun. Nilai – nilai budaya yang secara turun – temurun yang dimaksud adalah Sopan, Santun, Taat, Menghormati, Menghargai, Menjunjung Tinggi Adat, Tata Krama Pergaulan, dan lainnya yang menjadi ciri khas orang Indonesia. Kebiasaan mengalah, menghargai jasa orang lain, menghormati hak milik orang merupakan gambaran betapa orang Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi budayanya. Bagi orang Indonesia budaya adalah jembatan menuju kesuksesan, budaya adalah tempat untuk mencari solusi jika terdapat permasalahan, budaya adalah harta yang tak ternilai harganya.
Perubahan dalam hidup boleh terjadi akan budaya dengan nilainya yang tak terhingga akan tetap menjadi simbol bagi orang Indonesia dalam kehidupannya. Terbukti walaupun kemajuan begitu pesat saat ini akan tetapi dalam setiap kesempatan tetaplah budaya dikedepankan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.
Pada prinsipnya setiap perkembangan dan kemajuan dalam segi apapun baik adanya, setiap manusia menginginkan perubahan pun demikian dalam konteks kehidupan bermasyarakat.
Dari sekian banyak bidang ada dan berpacu untuk kemajuan salah satunya adalah bidang teknologi, yang menghadirkan perubahan dan kemajuan untuk selanjutnya digunakan oleh manusia. Beragam teknologi yang diciptakan memungkinkan manusia untuk bebas memilih apa yang diinginkan.
Perkembangan teknologi seperti yang sudah tersaji diatas tentu membawa perubahan yang begitu baik dan pesat dalam kehidupan manusia. Perkembangan itu baik adanya jika sesuai dengan apa yang diharapkan. Bagaimana jika perkembangan teknologi membawa pengaruh negatif dalam hidup manusia ? apakah pengaruh negatif dari teknologi mempengaruhi pergeseran nilai – nilai budaya dalam kehidupan manusia ? Kedua pertanyaan ini menjadi wajar apabila kita perhatikan dengan seksama dampak dari kemajuan saat ini.
Tidak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi saat ini juga membawa pengaruh yang kurang baik atau negatif dalam kehidupan manusia. Kehadiran tekologi yang sedemikian canggih membuat masyarakat umum mempunyai begitu banyak pilihan untuk memilih apa yang dikehendakinya.
Pertanyaan kedua apakah pengaruh negatif teknologi mempengaruhi bergesernya nilai – nilai budaya dalam masyarakat, jawabannya iya. Teknologi diciptakan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuan manusia itu sendiri, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya justru teknologi tersebut disalah gunakan. Misalnya lewat teknologi internet atau dunia maya orang akan semakin mudah mengakses situs – situs porno yang justru itu datang dari kaum muda, hal ini tentu membuat pergeseran norma asusila dalam hidup kaum muda tersebut. Ini menjadi satu contoh dari sekian banyak contoh yang ada dalam kehidupan sehari hari masyarakat.
Contoh lain adalah dampak teknologi adalah dalam bidang militer, berpuluh – puluh macam senjata dicipatakan untuk membunuh manusia, kemana larinya budaya untuk saling menolong, menghargai sesama manusia kalau teknologi yang diciptakan justru dipakai untuk membunuh manusia sendiri. Yang paling hangat dalam ingatan kita tentunya kasus penculikan dan perkosaan yang dilakukan oleh pelajar beberapa waktu lalu yang justru dilakukan setelah pada mulanya berkenalan lewat media teknologi jejaring sosial online facebook. Dengan begitu mudahnya orang dapat mengakses informasi diri dan menyebarluaskan kepada sesama teman, akibatnya prostitusi pun dapat dilakukan lewat dunia maya ini yang justru merupakan efek dari perkembangan teknologi modern. Dan masih banyak lagi contoh betapa perkembangan teknologi yang begitu canggih justru disalah gunakan mengakibatkan bergesernya nilai – nilai budaya umat manusia itu sendiri.
Dalam upaya mempertahankan nilai nilai budaya dalam lingkungan masyarakat tentunya dibutuhkan kerja yang eksta, mengingat bahwa nilai – nilai budaya dalam masyarakat menentukan pula perkembangan kehidupan sosial masyarakat itu sendiri. Mereka yang mampu bertahan di tengah kehidupan teknologi yang semakin canggih tentunya akan mendapatkan kehidupan yang diinginkan, demikian sebaliknya.
Bagaimana upaya mempertahankan nilai – nilai budaya dalam kehidupan masyarakat ? ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh manusia dalam upaya membentengi diri dari arus negatif teknologi. Beberapa hal tersebut antara lain :
1. Memperkenalkan pentingya nilai – nilai budaya kepada anak sejak usia dini
2. Memberikan pemahaman kepada anak, masyarakat dan elemen lainnya betapa vitalnya nilai – nilai budaya terhadap kehidupan
3. Memberikan batasan terhadap hal yang bersifat negatif yang masuk dalam hidup dan kehidupan suatu masyarakat
4. Menjadikan nilai – nilai budaya sebagai ujung tombak dari norma kehidupan keluarga dan masyarakat
5. Menjunjung tinggi nilai – nilai budaya
6. Memandang teknologi dengan segala kemajuan dan perubahannya dalam arti yang positif
7. Menggunakan fasilitas kemajuan teknologi untuk hal yang baik dan positif
8. Sebagai orang tua wajib untuk memberikan pengawasan ekstra kepada anak, baik dalam penggunaan teknologi atau pergaulan sehari-hari.
Memang dalam penerapannya terkadang sulit untuk mengikuti keinginan dibanding kata hati, akan tetapi untuk hidup yang lebih baik kita dituntut untuk melakukan perubahan dalam hidup kita.
Setinggi apapun kemajuan teknologi yang ditawarkan kepada kita akan tetapi kita salah menggunakannya tentu akan membuat hidup kita menjadi salah jalan, justru teknologi tersebut akan menyesatkan hidup kita sehingga nilai – nilai budaya hidup kita tidak lagi sesuai dengan yang kita harapkan, akhirnya ada yang harus dikorbankan dari kejadian tersebut.
Semuanya berpulang kembali kepada kita manusia sebagai makluk sosial, apakah teknologi yang sedemikian canggih ini dapat kita maksimalkan penggunaannya atau justru perkembangan teknologi yang menyeret kita pada hancurnya kebudayaan kita ? anda dan saya yang akan menjawabnya.
Syalom.

MAKALAH PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN DAERAH


MAKALAH PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dalam perkembangannya globalisasi menimbulkan berbagai masalah dalam bidang kebudayaan,misalnya : - hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara - terjadinya erosi nilai-nilai budaya, - menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme - hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong - kehilangan kepercayaan diri - gaya hidup kebarat-baratan
C. RUMUSAN MASALAH
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satunya adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.
D. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu : 1. Mengetahui pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah 2. Untuk meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa
BAB II KERANGKA TEORITIK DAN RUMUSAN HIPOTESIS
A. BATASAN ISTILAH
Dalam pembuatan makalah ini menggunakan istilah-istilah yang sudah dimengerti oleh masyarakat banyak, adapun tujuan dari penggunaan istilah-istilah tersebut yaitu untuk memudahkan pembaca dalam membaca makalah ini.
B. SUDUT PANDANG PENDEKATAN
Sudut pandang yang kami gunakan dalam pembuatan mekalah ini yaitu sudut pandang secara sosiologis dan psikologis yaitu pengaruh globalisasi pada masyarakat umum dan sikap para pemuda dalam menyikapi pengaruh budaya asing.
C. KERANGKA BERPIKIR
Dalam pembuatan makalah ini kami menggunakan pola paragraf dari umum ke khusus, dengan alasan agar pembaca merasa bingung dalam membaca karena dalam membaca dimulai dari hal-hal yang ringan dulu baru meningkat ke hal-hal yang lebih kompleks.
D. RUMUSAN HIPOTESIS
Adanya globalisasi yang memiliki dampak positif maupun negative, maka perlu adanya tindak lanjut dalam menyikapi globalisasi tersebut. Adapun tindakan-tindakan yang dapat dilakukan yaitu : 1. Menambah porsi pengetahuan tentang kebudayaan bangsa di sekolah-sekolah baik mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi 2. Menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative. 3. Mengadakan berbagai pertunjukan kubudayaan 4. Membatasi acara-acara yang dapat memunculkan rasa cinta terhadap budaya asing.
BAB III PEMBAHASAN
A. GLOBALISASI DAN BUDAYA
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka. Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.
B. GLOBALISASI DALAM KEBUDAYAAN TRADISIONAL DI INDONESIA
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar. Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti.. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.
C. PERUBAHAN BUDAYA DALAM GLOBALISASI ; KESENIAN YANG BERTAHAN DAN YANG TERSISIHKAN
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi. Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional.
D. PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP BUDAYA BANGSA
Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri . Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya. Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa). Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion . Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia . Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.
E. TINDAKAN YANG MENDORONG TIMBULNYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN DAN CARA MENGANTISIPASI ADANYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural. Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha merubah agar sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan. Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut. Oleh karena itu pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Kita harus beradaptasi dengannya karena banyak manfaat yang bisa diperoleh. Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah produk dari modernisasi bermanfaat besar bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara masal dan merata. Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini. Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional. Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop. Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada beberapa alternatif untuk mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM ) bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau dana-dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah�. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.
B. SARAN – SARAN
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu : 1. Pemerintah perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran budaya bangsa 2. Masyarakat perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada umumnya 3. Para pelaku usaha media massa perlu mengadakan seleksi terhadap berbagai berita, hiburan dan informasi yang diberikan agar tidak menimbulkan pergeseran budaya 4. Masyarakat perlu menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative. 5. Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru, sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997. 2. Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997. 3. Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalamhttp://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload 7/15/04. 4. Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. 5. Adeney, Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius. Al-Hadar Smith, “Syariah dan Tradisi Syi’ah Ternate”, dalam http://alhuda.or.id/rub_budaya.htm , didown load 7/15/04. 6. http://www.google=pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah.com/

Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Terhadap Budaya Bangsa


Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Terhadap Budaya Bangsa

Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa.
Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Menurut Edison A. Jamli (Edison A. Jamli dkk, Kewarganegaraan, 2005), globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan.
Sebagai sebuah proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnyateknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi, informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan, dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Makin canggih dukungan teknologi tersebut, makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain.
Namun perlu diingat, pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan, ketepatan, akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu, tenaga dan biaya. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat, karena kehadiran surat elektronis (email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database), dan masih banyak lagi.
Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK, misalnya dari globalisasi aspek ekonomi, terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
Pada hakikatnya teknologi diciptakan, sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, baik pada saat manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya.
Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran, keindahan, keadilan, kemanusiaan, kebijaksanaan, dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan.
Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. Seyogyanya, masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat, sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat, dan efek negatif dapat lebih diminimalkan.
Sumber :
  • Pengaruh Globalisasi terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara-negara Berkembang (Krsnaagni)
  • Teknologi Tera di Ambang Mata (Made Kembar Sri Budhi)
  • Menyimak Dampak Kemajuan Teknologi Informasi (Ahmad Fahmi Sulthon)
  • Dampak Globalisasi Informasi (Harry Truman)