Jumat, 27 Juli 2012

Mengajar dan Melatih Yang Membumi dengan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)


Mengajar dan Melatih Yang Membumi dengan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)


Mengajar pada dasarnya adalah upaya menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa, maka nampak bahwa aktivitas mengajar lebih dominan oleh guru sebagai pelaku pengajar. Sedangkan siswa hanya bertindak sabagai obyek pelajar . Jadi guru dengan segala aktivitasnya berupaya memberikan pengajaran kepada para siswa. Sedangkan siswa cenderung bersifat pasif.

Kemudian dalam makna yang lebih luas, mengajar dapat diartikan dengan segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai tujuan yang telah di tetapkan.

Pendidikan pada hakikatnya mengandung tiga unsur yaitu mendidik, mengajar, dan melatih. Ketiga istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda-beda secara sepintas bagi orang yang awam mungkin akan dianggap sama artinya.

Dalam praktik sehari-hari dilapangan kita sering mendengar kata-kata seperti pendidikan olahraga, pengajaran olahraga, latihan olahraga dan sebagainya.

Mengajar berarti memberi pelajaran tentang berbagai ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan berpikir. Sedangkan melatih ialah usaha memperoleh keterampilan dengan melatihkan sesuatu secara berulang.
Tujuan dari kedua jenis kegiatan itu juga berbeda, tujuan .Tujuan pengajaran yang menggarap kehidupan intelek anak ialah supaya anak kelak memiliki kemampuan berpikir seperti yang diharapkan dari orangdewasa secara ideal yaitu diantaranya mampu berpikir abstrak, logis, obyektif, kritis, sistematis analitis, sintesis, integratif, dan inovatif.

Sedangkan Tujuan latihan ialah untuk memperoleh keterampilan tentang sesuatu perbuatan yang berlangsung secara mekanis yang mempermudah kehidupan sehari-hari dan dapat pula membantu proses belajar seperti kemampuan berhitung, membaca, menulis, mempergunakan bahasa, dan sebagainya. Baik keterampilan maupun kemampuan berpikir akan membantu proses pendidikan yang menyangkut pembangunan kepribadian seseorang.

Cara mengajar dan melatih yang membumi menurut PakDe Kholiq sesuai dengan Kisah yang diungkap dalam postingannya hari ini . Kisah I tentang Pak Mangku yang menerangkan tentang perbedaan Stalaktit dab Stalagmit pada dasarnya adalah sebuah metode mengajar yang dikembangkan sekarang ini. Sebuah model pembelajaran yang lebih dikenal dengan nama Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu peserta didik untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat sehingga nantinya melekat dalam ingatan para peserta didik. Seperti halnya Pak Mangku yang memberi petunjuk cara mengingat Stalaktit ambil kata TIT, ada huruf T nya bukan, nah bayangkan kata Manthur, itu berarti air yang menetes dari atas kebawah. Sedangkan untuk stalakmit ambil kata MIT, ada huruf M.
Sedangkan Untuk Kisah II tentang Pakde Ndar yang mempunyai trik jitu untuk membiasakan para hansip arek ndeso tersebut melakukan gerakan balik kanan maju jalan. Pada saat hansip melakukan gerakan berjalan beliau memberikan aba-aba ” Balik kanan majuuuuuuuu JALAN”, Pada saat itulah Pakde Ndar membimbing dengan hitungan “SATU DUA SETENGAH PUTER BANTING..BRAK…..”. Kata SETENGAH PUTER BANTING itulah kuncinya. Melatih gaya ndeso itu pas untuk mereka sehingga lambat laun gerakan balik kanan maju jalan selalu mulus.

Saya teringat akan Confucius yang menyatakan, What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa). What I see, I remember (apa yang saya lihat, saya ingat), What I do, I understand (apa yang saya lakukan, saya paham). Tiga pernyataan yang mudah diingat dan mudah dipahami, serta sangat menarik untuk diterapkan.

Apa yang PakDe Ndar lakukan pada dasarnya adalah What I do, I understand. sehingga dengan latihan yang berulang kali disertai dengan motivasi dan aba-aba dari pelatih, maka pastilah peserta didik akan lebih cepat memahami. Dan hal ini juga sangat cocok dengan tugas guru sebagai Motivator.

Saya sangat setuju akan penutup postingan PakDe bahwa : Cara mengajar dan melatih anak didik perlu diselipi penjelasan yang lebih membumi,lebih dari sekedar yang ada di buku. Dengan cara itu mereka akan memahami dengan baik materi yang dipelajarinya. Terima Kasih banyak PakDe.

Rabu, 25 Juli 2012

Tip Kecil untuk yang Kecil: Kritik buat Kreatif

Tip Kecil untuk yang Kecil: Kritik buat Kreatif

M. Rasyid Nur
OPINI | 07 April 2012 | 05:35 Dibaca: 62   Komentar: 8   2 dari 3 Kompasianer menilai bermanfaat
BUAT yang baru memulai (belajar) menulis dan mempublikasikannya, terkadang kritik menjadikannya ragu atau takut melanjutkan langkah kreatifnya. Karena merasa tulisannya dijelekkan atau direndahkan, hilanglah gairah dan semangat berkarya.
Tidak harus menyebut nama untuk contoh. Tapi ada banyak yang mengalami dan terbukti berhenti menulis lagi setelah tulisannya dikritik kanan-kiri. Tidak betah disebut-sebut kekurangan dan kelemahannya lalu mengambil keputusan yang salah: tidak berkarya lagi. Mental jelek ini dapat juga terjadi pada kreatifitas lain selain di ranah tulis-menulis.
Tapi haruskah berhenti berkarya –apa saja: menulis, berdagang, berkebun, dll– hanya karena ada yang menyebut-nyebut karya kita? Tidak perlu, tentunya. Bukan karena sikap ‘anjing menggonggong kafilah berlalu’ secara membabi-buta tapi justeru gonggongan itu dapat dijadikan peringatan. Jangan-jangan ‘anjing’-nya akan menggigit. Jika waspada dan menghadapinya dengan benar, tentu akan baik hasilnya.
Untuk semua rencana usaha atau karya, khususnya di bidang tulis-menulis memang harus dipahami bahwa hujan kritik adalah hal biasa. Tidak saja buat penulis pemula tapi untuk yang sudah senior dan ternama saja, kritik selalu ada. Malah bisa semakin kebanjiran kritik. Sekali lagi itu, biasa.
Harusnya kritik membuat kreatif. Bukan membuat macet usaha dan ikhtiar kita. Terkhusus buat sahabat muda awal berkarya, perlu dicamkan betul bahwa kemajuan dan harapan akan terwujudkan hanya dengan kekuatan keyakinan. Yakinkan diri bahwa setiap orang punya pikiran dan perasaan yang terpendam. Mereproduksi pikiran dan perasaan secara tertulis, itulah yang terus-menerus harus diasah. Tidak boleh berhenti hanya karena ada yang menyebut kekurangan dan kelemahan apa yang diungkapkan lewat tulisan.
Itulah sebabnya dikatakan oleh banyak pakar bahwa kalau untuk jadi penulis tidak dibutuhkan ijazah, apalagi diembel-embel IPK (Indek Prestasi Kumulatif) tinggi. Tidak pula dibutuhkan juga uang atau ekonomi mapan dan berlebihan. Tidak perlu pula pisik atau badan kekar dan tinggi, misalnya. Yang dibutuhkan tak lebih dari ketekunan dan kesungguhan yang dilengkapi dengan ketabahan. Percaya diri berlebihan tidak baik. Tapi merasa minder juga lebih jelek.
Seseorang yang saat ini tersohor di bidang tulisa-menulis, bukanlah hasil kerja sekali jadi. Sebutlah nama-nama seperti Habiburrahman El-Shirazi, Ayu Utami, Andre Hirata, Afifah Afra; atau nama-nama lama seperti Hamka, Marah Rusli dan banyak lagi para penulis zaman dulu hingga hari ini.
Nama-nama yang sudah terkenal di blantika tulis-menulis juga bisa bermula dari berbagai cara dan strategi. Ada penulis terkenal karena gigih menulis dan banyak menghasilkan karya tulisnya dalam bentuk buku-buku yang diterbitkan. Ada lagi karena buku sulungnya sudah menjadi best seller. Meledak di pasaran. Dan ada juga karena rajin berpromosi. Atau karena aktifnya menyalurkan lewat blog atau media online lainnya.
Kita ambil beberapa nama terkenal karena aktif menulis di blog. misalnya. Beberapa di antara mereka itu dapat kita sebut seperti Raditya Dika (Kambing Jantan), Arif Muhammad (Pocongg Juga Pocong), Akmal Syafril dengan tulisannya yang bertema Islam Liberal; dan banyak lagi.
Satu hal yang pasti dimiliki orang-orang top di bidang tulis-menulis itu adalah kebesaran hatinya menerima atau mendengar kritik terhadap tulisannya. Tak ada gunanya menolak atau menutup telinga dari krtitik pembaca tulisan kita.
Buat siapapun yang sudah memutuskan untuk menjadi penulis, tidak harus alergi dengan kritik. Kritik sejatinya memang harus berpengaruh pada setiap orang. Dan pengaruh yang diharapkan tentu saja bagaimana kritik membuat kreatif. Saya sendiri meski dalam usia yang tak muda saat ini tapi tetap merasa sebagai penulis pemula yang masih terus belajar. Sebagai ‘orang kecil’ dalam khazanah tulis-menulis, saya sadar betul dengan pandangan ini. Tak mungkin menjadi besar jika tak punya jiwa dan semangat besar.***

Manfaat Apel Tiap Pagi di Sekolah

Manfaat Apel Tiap Pagi di Sekolah

M. Rasyid Nur
REP | 18 April 2012 | 10:17 Dibaca: 240   Komentar: 0   Nihil
JIKA ada yang berpikir bahwa apel itu bermanfaat, itu tidaklah keliru. Tapi jika berpikir sebaliknya, juga tidaklah salah. Apalagi apel pagi, dalam awal hari suasana masih pagi, tentu akan besar manfaatnya. Namun begitu, manfaat apel pagi tergantung mau dilihat dari mana dan dengan cara apa dulu. Relatif, memang. Sayangnya tidak selalu di semua komunitas atau tempat ada apelnya di setiap pagi.
Yang pasti ada apel pagi adalah pada instansi seperti TNI, Polri, BC dan yang sejenis. Instansi seperti itu selalu ada dan melaksanakan apel pagi bahkan siang dan sore hari. Mereka melaksanakan apel rutin karena memang sudah menjadi ketentuan dalam kesatuan/ organisasi. Lalu perlukah apel pagi dilaksanakan di sekolah? Inilah sebenarnya yang ingin saya ulas sedikit pada kesempatan kali ini.
Ternyata sekolah-sekolah memang beraneka ragam kebijakan dan peraturan tentang perlu-tidaknya apel pagi di sekolah. Ada sekolah yang melakukan kebijakan apel pagi di setiap pagi dan ada pula yang hanya melaksanakan apel pagi hanya seminggu sekali: Apel Senin Pagi. Tapi ada pula yang tiga kali seminggu yaitu pada hari Jumat pagi (untuk program pembinaan rohani) dan pada Sabtu pagi (untuk Senam Pagi) di luar Senin Pagi. Kebijakan itu terserah saja kepada sekolah. Pertanyaan sederhananya, apakah ada faedah dari kegiatan apel pagi di setiap pagi di sekolah?
Manfaat apel pagi khususnya buat siswa/wi di sekolah sesungguhnya –menurut saya– sangatlah besar. Kesempatan yang walaupun singkat ini dapat dipakai untuk menyampaikan informasi-informasi penting berkaitan dengan sekolah. Para peserta didik di setiap sekolah seharusnya terus-menerus tahu dan mengerti perihal sekolahnya. Dan momen apel adalah salah satu kesempatan yang bagus untuk itu. Inilah saat waktu untuk mengup-date informasi sekolah.
Tata aturan apel yang berlaku dalam baris-berbaris yang jika dilaksanakan dengan benar adalah salah satu manfaat tersendiri yang dapat dipetik dari apel pagi. Manfaat ini bisa kepada kepada peserta didik dan bisa pula kepada pendidik. Nilai-nilai disiplin yang terkandung dalam pelaksanaan apel adalah nilai-nilai yang seharusnya diterapkan dalam keseharian warga sekolah di sekolah. Di sisi lain, kesempatan menyampaikan informasi kepada warga sekolah pada saat apel pagi adalah manfaat lain lagi.
Harus pula diperhatikan tentunya waktu yang dipergunakan untuk apel pagi. Seperti apel Senin Pagi, apel pagi yang dilaksanakan sekolah tentu tidak boleh mengganggu jam-jam belajar yang sudah ditetapkan sekolah. Waktu-waktu apel itu adalah waktu-waktu yang memang hanya diperuntukkan untuk melaksanakan apel. Waktunya juga tidak harus terlalu lama. Antara 10-15 menit setiap pagi sudah memadai. Dan itu tidak boleh berada dalam jam belajar yang 45 menit itu.
Seperti sudah disinggung bahwa pelaksanaan apel sendiri akan berguna untuk melatih disiplin anak-anak sementara sedikit waktu yang dipakai untuk menyampaikan nasehat dan atau pengumuman lainnya juga sangat bermanfaat buat anak-didik. Bahkan guru yang terlibat baik langsung maupun tidak, akan juga mendapatkan manfaat dari pelaksanaan apel pagi. Guru yang cenderung lambat datang ke sekolah dapat diatasi dengan memberi tanggung jawab pelaksanaan apel pagi.
Dengan menyisihkan 5-15 menit setiap pagi sebelum masuk kelas sesungguhnya ada banyak arahan atau nasehat yang dapat disampaikan. Aplikasi nilai-nilai positif atau nilai karakter bangsa yang menjadi karakter sekolah dapat dibuktikan di sini. Jadi, apel pagi memang bermanfaat adanya.***

Menjadi Guru Pembina yang Bergairah Membina

Menjadi Guru Pembina yang Bergairah Membina

M. Rasyid Nur
OPINI | 27 April 2012 | 08:55 Dibaca: 132   Komentar: 4   1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
FENOMENA hilang gairah bagi guru-guru pembina terutama yang merasa sudah senior bahkan sepuh adalah kenyataan yang tidak sulit ditemukan di kalangan guru di Tanah Air saat ini. Tersebab perasaan ‘tak berguna’ banyak sekali ditemukan guru-guru senior yang kehilangan gairah melaksanakan tugas seperti sediakala. Duduk di golongan pangkat IV/A ternyata tidak cukup memberi semangat dalam melaksanakan amanat.
Anggapan dan perasaan bahwa dirinya tidak lagi ‘berguna’ di sekolah adalah kemungkinan salah satu penyebab timbulnya fenomena guru pembina tak bergairah ini. Dulu, di awal diangkat menjadi guru semangat menggebu-gebu. Setiap tugas dan tanggung jawab mampu terselesaikan dengan jitu. Tapi waktu mengubah semangat dan karakter yang tampaknya dibiarkan begitu saja berlalu. Merasa tidak ada sesuatu yang baru, motivasi pun tergerus dimakan waktu. Akhirnya kerja acuh tak acuh. Sungguh pilu.
Harus ada strategi untuk mengembalikan gairah yang terlanjur lama hilang ini. Dari diskusi-diskusi kecil antar sesama guru senior yang sudah berpangkat pembina, saya menduga bahwa mereka merasa tidak diberdayakan lagi di sekolahnya. Tugas-tugas tambahan hanya terbatas sampai level wali kelas yang dipercayakan. Itupun terkadang tidak selalu dapat.
Ada pandangan, tidak atau jarang terprogram dengan baik hingga mencapai Wakasek (Wakil Kepala Sekolah) apalagi menjadi Kasek (Kepala Sekolah) buat mereka, oleh sekolah. Berharap menjadi Wakasek atau Kasek bagaikan mengharapkan tumbuhnya tanduk kuda. Itu yang selalu tersimpul dalam pikiran mereka.
Mereka terlanjur menyimpulkan, yang akan menjadi Wakasek selalunya orang-orang yang bisa ‘mendekat’ ke Kasek. Sementara yang selalu menjadi Kasek adalah orang-orang yang punya koneksi dengan pihak ‘atas’ (baca: Dinas Pendidikan atawa Pemda). Kompetensi telah ditenggelamkan oleh koneksi. Pandangan yang tidak pernah bisa dibuktikan ini terus ada di kepala mereka. Padahal kebanyakan hanya dalam bentuk perasaan.
Sesungguhnya dari usia dan pangkat serta golongan yang digenggam, mereka sudah terlanjur melambung. Tapi nasib ‘malang’ membuat sebagian mereka tidak merasa mendapat jabatan idaman di sekolah. Mau menyeberang ke instansi lain juga bukanlah jalan mudah. Di luar susahnya ‘mengemis’ minta pindah ke instansi di luar guru, persoalan tidak sesuai dengan motivasi dan profesi juga menjadi satu kendala lainnya.
Beberapa langkah berikut mungkin bisa dipertimbangkan untuk mengembalikan gairah yang sudah hampir punah. Pertama, tentu saja secara internal sebagai guru harus mengembalikan sendiri gairah kerjanya. Jangan menunggu dari luar. Tidak harus melihat kegagalan mendapatkan jabatan tertentu di sekolah sebagai alasan untuk merusak gairah sendiri. Seharusnya kokoh memegang perinsip, “Jabatan jangan dikejar tapi tugas dan tanggung jawab jangan ditolak.” Artinya kalau dipercaya, kerjakan. Dan kalau tak/ belum dipercaya, biarkan. Bekerja saja secara profesional. Apalagi sudah mendapat tunjangan profesi karena sudah memiliki sertifikat profesi.
Hal kedua yang perlu dipertimbangkan (oleh pemegang otoritas) adalah memberi tugas-tugas tertentu di luar jabatan struktural di sekolah. Jika perlu ciptakan pula sebutan tertentu –seperti guru senior, guru emas, guru panutan, dll– buat mereka. Ini perlu untuk penguat mental mereka. Tentu saja sebutan-sebutan ini harus diiringi dengan pemberian materi memadai buat mereka. Selanjutnya sekolah dapat mengharapkan tetap bertahannya gairah mereka dalam tugas sehari-hari.
Sesungguhnya kegairahan melaksanakan tugas profesi tidak mesti dibiarkan terganggu bahkan tergerus oleh persoalan-persoalan di luar kapasitas kita sebagai guru. Mestinya guru tetap fokus pada fungsi dan tanggung jawabnya. Dari kompetensi pokok yang wajib dimiliki seorang guru seyogyanya cukup menjadi dasar untuk bertahan menjadi guru yang bergairah. Guru profesional tidak mungkin berjalan dengan benar jika tidak ditopang oleh rasa senang dan gairah dalam menjalaninya.
Kini, tugas tambahan yang seharusnya juga dipikul guru pembina adalah bagaimana membina rekan-rekan guru muda atau guru-guru yunior yang mungkin belum terlaksanakan oleh Kepala Sekolah. Fungsi-fungsi pembinaan Kepala Sekolah terkadang tidak selalu terlaksanakan dengan baik dan merata. Di sinilah para guru pembina dapat berkontribusi. Jadilah guru pembina yang ikhlas membina. Semoga!***

Kiat Mengatasi Corat-coret Baju Seragam ketika Pengumuman UN

Kiat Mengatasi Corat-coret Baju Seragam ketika Pengumuman UN

M. Rasyid Nur
REP | 25 May 2012 | 06:31 Dibaca: 282   Komentar: 16   Nihil
ENTAH dari mana bermula dan siapa yang mempeloporinya, jujur saja saya tidak tahu. Tapi budaya corat-coret baju seragam di kalangan pelajar kita sepertinya sudah tidak dapat dicegah. Beberapa tahun ini, itulah kegundahan sekolah, orang tua atau mungkin juga pemerintah setiap usai pengumuman kelulusan UN.
Hari Sabtu  (26/05/12) besok pengumuman UN (Ujian Nasional) bagi siswa/ siswi SLTA (SMA, MA dan SMK sederajat) akan dilaksanakan. Menyusul sepekan kemudian untuk SLTP (SMP, MTs sederajat) pula diumumkan. Hari itu adalah hari-hari dan momen yang ditunggu-tunggu oleh siswa kelas XII sebagai peserta UN. Sejak selesainya mengikuti UN, April lalu, inilah hari yang paling dinanti dengan penuh debaran hati.
Sebelum pengumuman, nilai-nilai UN itu akan diolah dulu oleh sekolah dengan cara menggabungkan nilai UN dengan nilai sekolah dengan proporsi 60% nilai UN dan 40% nilai sekolah. Hasil gabungan kedua nilai itulah yang akan menjadi dasar kelulusan para peserta didik yang telah mengikuti UN. Bagi yang memperoleh rata-rata minimal 5,50 (lima koma lima puluh) tanpa angka di bawah 4,0 (empat koma nol) dari salah satu mata pelajaran dinyatakan lulus. Sementara yang dibawahnya (tidak memenuhi syarat) dinyatakan tidak lulus.
Kekhawatiran akan terjadi lagi corat-coret baju seragam (putih-abu-abu) seperti tahun-tahun sebelumnya setelah pengumuman menghantui memang bukan saja guru dan orang tua tapi juga pemerintah. Jelas-jelas kebiasaan itu adalah kebiasaan buruk dilihat dari sisi manapun.
Dari sisi agama, itu disebut mubazir karena membuang-buang pakaian yang seharusnya masih bisa dipergunakan.  Tidak mungkin baju dan celana yang sudah penuh cat (spidol dan cat semprot pilox) akan dipakai lagi. Biasanya baju itu langsung dibuang begitu saja. Dan tidak mungkin juga untuk dibersihkan lagi.
Dari sisi moral pula, itu juga sangat tidak pantas dan berlawanan dengan rasa kemanusiaan kita. Bayangkan, baju secantik itu harus penuh cat dan menjadi kumal hanya untuk menumpahkan emosional. Karena biasanya juga dibarengi dengan kompoi-kompoi berkenderaan, ini satu hal yang juga menakutkan. Sungguh tidak pantas.
Baju seragam yang sebenarnya masih bagus dan layak pakai seharusnya dapat diberikan kepada yang membutuhkan. Tidak harus jauh-jauh mencari orang yang mau memakainya. Bahkan di sekolah yang sama saja masih ada para siswa yang secara ekonomi memerlukan uluran tangan dan mau menerima pakaian seragam yang tak akan dipakai lagi itu. Tidak seharusnya baju itu dikotorkan dengan cat atau spidol.
Lalau bagaimana seharusnya menyikapi kebiasaan jelek ini? Memberi pengertian saja kepada mereka (para siswa) sepertinya tidak mendapat respon yang benar. Kalau pun sekolah melakukan berbagai strategi mengatasinya, mereka ternyata jauh lebih pintar mensiasati strategi pihak sekolah. Mereka tetap saja melakukan tradisi yang salah itu.
Namun demikian, sekolah harus terus berusaha mencari jalan agar kebiasaan buruk ini dapat dicegah dan atau dikurangi. Mungkin beberapa tip berikut bisa dipakai untuk mengatasinya:
1) Pakaikan baju adat (kebesaran daerah). Maksudnya pada hari pengumuman itu tidak dibenarkan memakai baju seragam sekolah (abu-abu putih) seperti selama ini. Bahwa kemungkinan mereka meninggalkan baju mereka di luar pakarangan sekolah untuk dipakai nanti selepas prosesi pengumuman, harus pula diantisipasi. Pastikan mereka tidak membawa baju seragam itu secara sembunyi-sembunyi.
2) Undang orang tua. Maksudnya bisa saja yang mengambil kertas pengumuman cukup orang tua saja. Lalu orang tua diwajibkan membawa/ menyerahkan kertas pengumuman itu di rumah sekaligus mengingatkan putra-putrinya untuk tidak lagi keluar rumah berkompoi dengan teman-temannya. Kalau mereka dibiarkan, mereka akan cenderung melakukan kebiasaan itu lagi. Jadi, peran orang tua sangat menentukan.
3) Pakaian batik  Selaian memakai pakaian adat, dapat pula dengan memakai pakaian batik. Pakaian nasional ini (usahakan yang berwarna lebih gelap) tidak terlalu menarik bagi mereka untuk mencoretnya. Berbeda dengan kalau mereka memakai seragam sekolah yang lebih terang.
4) Kumpulkan di aula. Buat sekolah yang memiliki aula, dapat secara ketat mengatur pembagian lembaran pengumuman itu di dalam aula. Dengan dihadiri oleh semua guru (kalau perlu juga orang tua) mereka akan merasa segan melakukan corat-coret. Biarkan mereka meluahkan rasa gembira mereka di aula dengan pengawasan para guru atau orang tua. Tentu saja dengan aula yang layak untuk menampung suasana gembira yang terkadang berlebihan.
5) Melalui IT. Dengan fasilitas internet yang sudah ada di setiap rumah pengumuman dapat dilihat di rumah saja. Atau jika sanggup, secara manual juga dapat diantarkan ke rumah-rumah entah oleh guru atau bisa dengan jasa pos. Kembali orang tua diharapkan berperan mengingatkan anaknya untuk tidak keluar rumah setelah tahu lulus.
Bahwa untuk setiap strategi sekolah dalam mengatasi tradisi jelek ini selalu pula ada strategi siswa untuk melawannya, itulah terkadang sifat manusia. Selalu ingin lain dari pada yang lain. Sayangnya, keinginan ‘lain’ itu berupa tradisi jelek yang harusnya tidak perlu.
Mungkin di beberapa sekolah –di Tanah Air– sudah berhasil menghentikan kebiasaan buruk ini. Atau setidak-tidaknya sudah melakukan berbagai langkah dan strategi mengatasinya. Tapi setiap tahun, masih banyak anak-anak kita terlibat kebiasaan jelek ini sehabis pengumuman, itulah tugas lain tugas mengajar dan mendidik selama mereka ini di sekolah.***

Memang Mesti Dipaksa

Memang Mesti Dipaksa

M. Rasyid Nur
OPINI | 28 May 2012 | 08:30 Dibaca: 34   Komentar: 2   Nihil
TERNYATA tidak semua ‘pemaksaan’ dapat disebut jelek. Tidak selalu negatif, begitu. Ada juga rupanya pemkasaan yang bernilai positif. Setidak-tidaknya setelah akhirnya dapat menyadari kondisi pemaksaan itu muncul memang karena diperlukan.
Dalam hal mengembangkan diri, misalnya tidak selalu salah ada unsur paksa di dalamnya. Walaupun penggiat HAM ‘mengharamkan’ unsur paksa dalam konsepnya namun pemaksaan yang satu ini saya kira tidaklah salah. Pemaksaan oleh diri sendiri kepada dirinya sendiri juga, tentulah tidak termasuk kategori pelanggaran HAM. Lebih tepat disebut sebagai kemauan keras diri kepada diri sendiri.
Saya khusus mengmbil contoh dalam keinginan membuat karya tulis (mau serius atau sekedar mengisi waktu saja) umpamanya. Persoalan ini menarik saya bukan saja karena masih banyaknya rekan-rekan pendatang baru yang mengeluh, sulitnya mengalahkan rasa malas dalam khazanah tulis-menulis tapi lebih kepada diri saya sendiri. Saya sendiri merasakan betapa tidak mudahnya merealisasikan keinginan.
Untuk mewujdukan keinginan –jedi penulis– itu tetap saja tidak mudah terutama di tahap awal. Di hati kecil, melihat rekan-rekan kita melahirkan tulisan bahkan buku yang diterbitkan, timbul juga keinginan untuk melakukannya. Tapi itu tidak mudah.
Dengan modal rajin membaca, seseorang pasti sangat ingin menulis –membuat karya tulis– seperti tulisan-tulisan yang dibacanya. Semakin banyak membaca semakin besar pula keinginan untuk menuangkannya kembali lewat tulisan. Ini lazim adanya.
Pada tahap memulai, terkadang tiba-tiba terasa banyak ide yang ingin diungkapkan. Syukur, pada saat tertentu itu mampu menuliskannya. Dengan menggunakan berbagai media (online atau cetak) akhirnya muncul juga karya tulis itu di tengah publik. Tapi pada tahap memulai pula selalunya kesulitan menelorkan tulisan terasa sulit.
Di tahap seperti itulah perlunya keberanian memaksa diri untuk melahirkan tulisan. Seperti apapun tulisan itu tidak harus menjadi ketakutan. Biarkan saja hasil karya tahap awal itu mungkin tidak menarik menurut kita sendiri. Paksakan saja hingga tulisan itu lahir.
Beberapa kali tulisan muncul, misalnya. Beberapa tulisan mungkin pula mendapat tanggapan dari pembaca. Tanggapan positif maupun negatif harus pula mampu menerimanya dengan baik. Hingga sampai satu titik, tidak mudahnya melanjutkan mereproduksi pikiran dan perasaan lewat tulisan. Otak selalu terasa mandeg menghasilkan tulisan-tulisan baru. Sekali lagi mesti dipaksakan.
Nah, pada posisi kesulitan melahirkan tulisan seperti dalam keadaan begitulah maksud saya untuk terus ‘memaksa’ diri menghasilkan karya. Apa saja, tulis saja. Topik yang hangat atau tidak, bahasanya menarik atau tidak, jangan dihiraukan.
Saya ingin menegaskan bahwa tulisan yang Anda hadapi ini pun bermula karena beberapa hari ini otak saya seperti buntu kalau berhadapan dengan komputer. Entah karena begitu banyaknya tugas-tugas rutin dan keseharian entah karena apa, yang pasti setiap ingin menulis setiap itu pula rasa bosan dan malas datang. Otak seperti kosong.
Akhirnya muncullah tulisan dengan judul seperti ini. Apakah tulisan ini akan berguna buat pembaca? Nah itu tadi, tidak terlalu saya pusingkan. Apalagi kalau membaca variasi motivasi dari beberapa penulis ulung di Tanah Air ini, tidak kurang pula di antara mereka yang cenderung memaksakan diri untuk menghasilkan karya tulisnya yang jadi ‘best seller’ itu meskipun dikemas dengan istilah ‘kerja keras’. “Pan sama aja,”  kata Jojon si pelawak itu.
Jadi, hendak menulis juga mesti dipaksa? Mengapa tidak. Kan memaksa diri sendiri. Jika karena tulisan ini ada diantara pembaca yang merasa terpaksa juga, itulah amanatnya. Semoga!***

Tugas RT, Itu juga Ujian Guru

Tugas RT, Itu juga Ujian Guru

M. Rasyid Nur
OPINI | 31 May 2012 | 05:59 Dibaca: 100   Komentar: 2   Nihil
KEBIJAKAN pemberian tunjangan sertifikasi bagi guru-guru yang sudah bersartifikat profesional telah mengubah beberapa paradigma guru terhadap sekolah dan tanggung jawabnya serta pandangan sekolah dan masyarakat terhadap guru itu sendiri. Bukan saja karena perbedaan penghasilan sebelum dan sesudah sertifikasi tapi juga pamor dan gengsi menjadi guru juga berubah sebagai ikutannya.
Pandangan sebelah mata kepada guru seperti masa lalu sudah hilang. Apalagi menutup mata, sudah tak ada. Status guru benar-benar berubah dengan kebijakan pemberian tunjangan sertifikasi tersebut. Guru-guru juga tidak lagi merasa minder memikul statusnya sebagai guru. Dulu anekdotnya ‘umar bakri’ kini ‘aburizal bakri’.
Konsekuensi pemberian penghasilan lebih itu otomatis diikuti oleh tuntutan tanggung jawab dan pekerjaan yang lebih besar pula. Di sekolah guru dibebani berbagai tuntutan sesuai kewajiban dan perannya sebagai guru. Dari kompetensi akademis hingga kompetensi sosial tidak lagi dapat diabaikan. Sementara di tengah masyarakat dan di rumah sendiri juga ada peran dan tanggung jawab yang melekat.
Ada belasan tugas dan tanggung jawab guru di sekolah. Beberapa tugas yang tak bisa tidak itu antara lain misalnya, 1) Guru harus melaksanakan pembelajaran dan menyuruh peserta didiknya untuk belajar; 2) Guru harus membimbing dan membina anak-didik serta membina sekolah sekaligus; 3) Guru harus mendiagnosa sekaligus memberi solusi kesulitan-kesulitan peserta didik; 4) Guru harus pula membuat dan menyelenggarakan penelitian serta pengembangan dirinya.
Fungsi dan tanggung jawab itu masih bisa dan dapat terus dikembangkan sesuai tuntutan dan perkembangan yang ada. Pastinya tugas berat guru itu adalah konsekuensi logis dari fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pengajar dan pendidik yang hak-hak finansialnya juga menjadi keharusan. Alasan mencari penghasilan tambahan di luar dinas juga tidak bisa ditoleransi lagi.
Terlepas dari begitu besarnya harapan kepada guru di satu sisi dan begitu beratnya pula beban dan tanggung jawab guru di sisi lain, guru tetaplah manusia biasa. Guru adalah masyarakat biasa dengan kemungkinan predikat isteri atau suami di rumah. Mungkin juga menjadi emak atau ayah dari anak-anak tersayang atau menjadi abang dan kakak dari beberap adiknya. Bisa pula menjadi Ketua RT (Rukun Tetangga) atau Ketua RW (Rukun Warga) di sekitar rumah tempat tinggal. Bukankah guru juga wajib memiliki kompetensi sosial?
Mengatur dua atau lebih peran itulah tidak jarang guru bisa keliru. Fungsi dan tanggung jawab guru sekaligus sebagai manusia biasa dengan segala predikat tadi jika diperlukan dalam satu kesempatan yang sama, salah satu terkadang mesti dikorbankan. Seorang Ibu Guru yang seharusnya melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah tapi dalam waktu yang sama harus pula mengurus anak kecilnya yang kebetulan sakit di rumah, itu tidaklah mudah. Integritas diri akan menjadi barometer dan taruhannya.
Mengabaikan salah satu peran juga tidak mudah dan mungkin tidak bisa. Di sinilah sesungguhnya ujian berat seorang guru. Menyukseskan penyelenggaraan pembelajaran dan tugas-tugas pendidikan di sekolah di satu sisi, sementara di sisi lain pun harus melaksanakan peran lain yang melekat pada dirinya. Jika guru secara keliru mementingkan salah satu dan mengabaikan yang lainnya maka akan terjadi perang dan kesulitan berkepanjangan pada diri guru itu sendiri.
Untuk ini diperlukan kematangan berpikir dan keahlian bertindak dalam mengatur kedua-duanya. Guru tidak bisa meninggalkan tugas dan tanggung jawab keguruannya di sekolah dengan alasan ada pekerjaan Rumah Tangga (RT) dan begitu pula sebaliknya. Tapi guru yang baik mestinya mampu melewati kesulitan seperti itu. Tugas RT memang salah satu ujian guru dalam usaha menyukseskan fungsi dan tanggung jawabnya sedbagai guru. Semoga!***